Oleh: Kabul Setio Utomo
Pada umumnya terdapat dua model partai yang berbeda, partai kader (partai pemilih) dan partai anggota (massa). Partai kader tidak memiliki terlalu banyak anggota. Biasanya hanya pengurus atau kandidat direkrut oleh partai, bukan anggota biasa. Tingkat organisasi partai kader kurang tinggi. Partai ini lebih mementingkan sukses di pemilu, maka disebut partai pemilih. Jumlah pemilih dibanding jumlah anggota sangat tinggi, akan tetapi pada umumnya keterikatan pemilih pada partai tidak terlalu kuat. Seleksi kandidat biasanya melalui primaries (pemilu pendahuluan) yang sering melibatkan publik. Karena jumlah anggota kecil partai kader membutuhkan penggunaan media (dengan biaya tinggi) untuk komunikasi dengan pemilih.Salah satu Contoh Partai Kader adalah PKS (Arbi Sanit, 2004 :2).
Partai anggota membutuhkan struktur dan organisasi yang lebih lengkap (dari tingkat lokal sampai nasional) dan kuat dibanding partai kader. Jumlah anggota tinggi dan keterikatan pada partai lebih kuat dan mendalam. Keterlibatan anggota dalam partai (seleksi kandidat, formulasi kebijakan) lebih tinggi dibanding partai kader dan bersifat bottom-up. Tingginya jumlah anggota dan aktifis merupakan suatu kelebihan partai anggota. Anggota adalah suatu sumber daya yang penting. Mereka membayar iuran, dapat dimobilisir pada masa kampanye secara gratis dan sukarelawan dan selalu berinteraksi dengan masyarakat dan mempromosikan program dan gagasan partainya. Oleh karenanya, politisi berasal dari partai anggota lebih dekat dengan pemilihnya. Partai-partai besar di Indonesia pada umumnya merupakan partai anggota, misalnya Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar.
Sementara ditinjau dari idiologi Partai Politik di Indonesia terbagi atas dua ideologi yaitu idiologi Nasionalis dan ideologi Agama. Partai Politik yang beraliran nasionalis biasanya lebih terbuka dan mempunyai karakteristik sebagai partai massa, sebagai contoh adalah Partai Golkar dan PDIP,PAN,PKB sementara partai politik yang beridiologi Agama lebih cenderung mempunyai karakteristik tertutup. Partai Politik beridiologi agama misalnya PPP dan PKS.
Partai politik di daerah khususnya di Kabupaten Wonosobo, dari 6 partai Politik besar yaitu PDIP, PKB, Golkar,PAN,PPP, dan Partai Demokrat, mempunyai ideologi Nasionalis (PDIP,PKB,Golkar, PAN dan Partai Demokrat) dan Agama (PPP). Sementara ditinjau dari karakteristiknya semuanya adalah partai Massa. Massayarakt pendukung PDIP adalah wong cilik, PKB dengan massa kaum Nahdiyyin, Golkar dengan massa birokrat dan kaum menengah, PAN dengan Massa muhammadiyah dan kaum Kota, Demokrat dengan SBY-ersnya (pendukung SBY), dan PPP dengan massa tradisional berbasis Pesantren.
Adanya Ideologi dan Basis massa yang jelas dari keenam Partai Politik di atas, maka implikasinya adalah mereka berhasil meraih kursi DPRD Kabupaten Wonosobo, yaitu PDIP (14 Kursi) PKB (12 Kursi) , sedangkan tiga partai yaitu PAN, PPP, dan Partai Golkar Partai Golkar masing-masing mendapatkan 6 Kursi dan 1 Kursi diraih oleh Partai Demokrat. (www.KPU-jateng.go.id).
Menurut analisis Penulis, kondisi yang akan terjadi pada pemilu 2009 ini tidak akan jauh berbeda dengan pemilu 2004, dimana partai-partai tersebutlah yang akan tetap mendominasi Peta Politik Lokal di Wonosobo. Namun demikian mungkin saja peta kekuatan itu bisa berubah dikarenakan ada beberapa Kondisi khas yang terjadi pada Partai, dan perubahan perilaku memilih masyarakat.
Analisis Perilaku Memilih (electoral behaviour)
Perilaku memilih (electoral behaviour) dalam pemilu merupakan salah satu bentuk perilaku politik (political behaviour). Perilaku politik merupakan perilaku yang dapat dipahami sebagai perbuatan, kelakuan, atau tindakan, dan juga aksi yang dijalankan individu atau kelompok atau masyarakat sebagai respon terhadap stimulan atau lingkungan politik tertentu, terutama sekali berkenaan dengan distribusi dan pemanfaatan kekuasaan dalam suatu masyarakat, dalam berbagai bentuk.
Penentuan untuk memilih atau memihak kepada satu kekuatan politik, dipandang sebagai suatu produk dari sikap dan disposisi psikis dari pemilih (August Cambell, 1960). Mazhab psikologis ini mempercayai bahwa perilaku memilih dapat dideteksi dengan dua konsep. Pertama, political involvement, yaitu perasaan penting atau tidaknya seseorang untuk terlibat dalam isu-isu politik yang bersifat umum (general). Kedua, party identification, yaitu preferensi (suka/tidak suka) dari seseorang terhadap satu partai atau kelompok politik tertentu.
Ditinjau dari sisi political involvement, maka hal ini bisa membawa kecenderungan perubahan pilihan terhadap partai Politik. Karena hal ini merupakan proses psikologis dari masyarakat pemilih yang mampu menakar dan mengamati sejauh apa akibat yang ditimbulkan dari pilihanya. Sebagai contoh ketika dalam Pemilu 2004 seseorang memilih Partai A tapi pada kenyataanya tidak banyak membawa perubahan baik pada masyarakat maupun dirinya maka kemungkinan besar ia akan mengganti pilihanya atau bahkan Golput, karena mengnaggap pilihanya tidak mempunyai nilai lagi. Hal ini bisa terjadi di Wonsosobo dikarenakan terjadinya proses politik yang demokratis sedikit banyak akan mempengaruhi pola pemikiran yang lebih kritis dan pengetahuan politik dari masyarakat yang lebih terbuka.
Ditinjau dari sisi party identification, (suka/tidak suka) dari seseorang terhadap satu partai atau kelompok politik tertentu, Biasanya ditentukan oleh proses panjang yang melibatkan diri dan lingkunganya, hal inilah yang kemudian memunculkan massa fanatik dari salah satu Partai. Massa fanatik biasanya mucul dari lingkungan yang cenderung homogen, dengan tingkat kontrol sosial yang tinggi (misalnya di pedesaan dan Pondok Pesantren).
Massa fanatik biasanya tidak akan muncul pada kalangan pemilih pemula dengan tingkat intelektual dan lingkungan sosial yang lebih terbuka dan heterogen (kaum Kota, Pelajar, mahasiswa) dan mereka juga merupakan Floating Mass (massa Mengambang) yang biasanya belum menentukan pilihanya secara pasti. Pemilih pemula inilah yang kelak akan banyak merubah peta kekuatan Politik Lokal di Wonosobo. Pemilih Pemula biasanya cenderung memilih Partai secara lebih rasional, namun juga sering melakukan pilihan politik berdasarkan pada trendsetter (yang dimunculkan Partai Melalui Kampanye Politik di Media).
Analisis Kondisi Khas yang Terjadi Pada Partai Politik
Kondisi khas disini menunjuk pada suatu kondisi internal Partai yang mengalami situasi tidak biasa. Dalam Hal ini penulis mencontohkan Kondisi yang terjadi pada PKB. Dengan Kondisi Internal PKB di Tingkat Pusat yang sedang mengalami kegoncangan antara Kubu Muhaimin dan Gus Dur, hal ini akan menimbulkan efek buruk terhadap kepengurusan PKB di tingkat daerah termasuk di Kabupaten Wonosobo. Diakui atau tidak PKB sangat identik dengan Gus Dur sedangkan kepengurusan Legal PKB pada pemilu 2009 adalah Kepengurusan Kubu Muhaimin. Implikasinya adalah Massa PKB Wonosobo Pro Gus Dur tidak akan menyalurkan aspirasinya ke PKB melainkan akan Pindah ke Partai yang mempunyai karakteristik yang sama dengan PKB misalnya PKNU atau PPP. Bahkan apabila pendukung fanatik Gus Dur maka bisa juga para massa PKB di Kabupaten Wonosobo akan menyalurkan aspirasinya ke Partai Gerindra sebagaimana Anjuran Gus Dur.
Partai Politik di Kabupaten Wonosobo yang akan sangat diuntungkan dengan kondisi ini adalah PKNU, karena PKNU dianggap menjadi representasi baru bagi kaum Nahdiyyin untuk menyalurkan aspirasi Politiknya, disamping mempunyai karakteristik yang sama PKNU juga mempunyai struktur kepengurusan Partai (dari tingkat pusat sampai daerah) adalah mantan pengurus PKB, sehingga sudah ada ikatan emosional sebelumnya.
Kondisi Khas lainya yang terjadi akhir – akhir ini adalah tren meningkatnya jumlah suara partai Demokrat dan Partai Gerindra dalam beberapa survey. Gencarnya iklan Politik di media,dan sosok figur SBY dan Prabowo ditengarai sebagai faktor utama meningkatkan simpati dari para pemilih terutama pemilih non fanatik (biasanya pemilih pemula dan kaum terpelajar). Sedikit banyak hal ini akan mendongkrak perolehan suara kedua partai ini di Kabupaten Wonosobo. Namun hal ini juga harus di dukung figur dan kinerja politisi lokal dari Partai Demokrat dan Gerindra kabupaten Wonosobo. Figur politisi harus minimal dapat merepresentasikan figur SBY atau Prabowo, sedangkan kinerja dalam menjaring massa juga harus sampai menyentuh level tingkat desa. Tanpa dibarengi dengan itu semua maka akan sulit bagi Demokrat maupun Gerindra untuk eksis dalam kancah politik lokal di Wonosobo.
Sabtu, 14 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar